Penanaman Kelapa Sawit Manfaatkan Lahan Kritis

November 6, 2007 pukul 12:46 pm | Ditulis dalam Kelapa Sawit | Tinggalkan komentar

 

Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Timur Maksum Abdullah Marhamah menyatakan mendukung kebijakan pemerintah pusat tentang pengembangan tanaman kelapa sawit, jagung, tebu, dan karet. Khusus tentang perluasan perkebunan kelapa sawit, ia mengusulkan agar hal itu memanfaatkan lahan kritis.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan, pemerintah berencana menanam kelapa sawit seluas 500.000 hektar per tahun. Kalimantan terpilih menjadi salah satu lokasi penanaman berdasarkan alasan potensi dan luas areal tanaman (Kompas, 8/5).
Menurut Maksum, program pemerintah pusat selaras dengan proyek satu juta hektar kelapa sawit di Kalimantan Timur (Kaltim). Realisasi program tersebut tidak langsung diterapkan dalam waktu singkat, tetapi bertahap selama 15 tahun.

Lahan seluas dua sampai tiga juta hektar di Kaltim bisa dibudidayakan untuk kelapa sawit. Meski ditanami semua, itu masih kurang dari 50 persen luas lahan kritis yang mencapai 6,4 juta hektar.
Walaupun proyek penanaman skala besar dinilai cukup baik, tetapi pelaksanaannya diharapkan tidak terburu-buru. Perkebunan kelapa sawit perlu memerhatikan keberadaan masyarakat lokal. Artinya, masyarakat bisa diberdayakan untuk memiliki perkebunan sendiri.
Gubernur Kaltim Suwarna Abdul Fatah beberapa waktu lalu menuturkan, provinsi itu butuh lima orang untuk mengerjakan satu hektar kebun. Atas perhitungan itu, satu juta hektar mampu memberdayakan 200.000 keluarga. Tenaga kerja yang bisa diserap bisa mencapai lima juta orang.
Bio-etanol di Lampung
Dari Bandar Lampung dilaporkan, CSM Corp Korea menyatakan serius berinvestasi di Lampung. Hal itu ditunjukkan dengan ditandatanganinya nota kesepahaman pembangunan pabrik bio-etanol berkapasitas 1,5 juta kiloliter etanol per tahun dan penanaman ubi kayu antara Provinsi Lampung dan Manajemen CSM Corp Korea.
Penandatanganan nota kesepahaman investasi senilai lebih dari Rp 10 triliun itu dilakukan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Rachmat Abdullah dan Executive CEO CSM Corp Gyu-Ho Choi, Senin (8/5) di Lampung. Investasi akan berlangsung 50 tahun lebih—bekerja sama dengan badan usaha milik daerah, dan bisa diperpanjang sesuai dengan kebutuhan.
Resi Bohang, Kepala Biofuel dan Sistem Energi PT Edis Indonesia, selaku anak perusahaan CSM Corp Korea yang menangani penelitian dan pendirian pabrik, mengatakan, dengan kapasitas sebesar itu setidaknya dibutuhkan bahan baku ubi kayu atau singkong sebanyak 10 juta ton per tahun. Dari setiap ton ubi kayu mampu dihasilkan 150-155 liter etanol.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: